Kondisi ini tentunya tidak memungkinkan bagi mereka untuk bisa menempuh pendidikan. Untuk mencukupi kehidupan sehari-hari saja rasanya sulit bagi para anak-anak ini, apalagi menyisihkan biaya dan tenaga untuk menuntut ilmu. Alhasil, mereka ini menjadi anak yang kurang terdidik dan memiliki kesempatan rendah untuk dapat meningkatkan kondisi mereka. Tetapi, kemungkinan buruk tersebut tentu bisa diminimalisir dengan terobosan adanya sekolah yang tak memungut biaya bagi anak-anak jalanan.
Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA)
SAAJA adalah sekolah yang dikhususkan untuk anak-anak yang berasal dari keluarga kurang sejahtera yang dibangun oleh Yayasan Pemberdayaan Rakyat Miskin (PaRam). Dilansir dari kompas.com, sekolah ini berdiri padatahun 2002 di Taman Badan Pendidikan dan Pelatihan (Badiklat) DKI Jakarta yang terletak di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.
Pembina SAAJA, Agus Supriyanto mengatakan bahwa motivasi untuk mengelola SAAJA dengan segala keterbatasannya adalah keinginan yang kuat untuk mendampingi pendidikan bagi anak dari keluarga pra-sejahtera. Di kota metropolitan Jakarta, tentunya keberadaan SAAJA ini sangat dibutuhkan, karena banyaknya penduduk di Jakarta tidak semuanya dalam kondisi yang sejahtera.
SAAJA memiliki 3 kelas yaitu PAUD, TK A2 untuk anak usia 5 – 6 tahun, dan TK B untuk anak usia 6 – 7 tahun. Kegiatan belajar mengajar berlangsung pada hari senin hingga jumat pada pukul 11.00 hingga 17.00. Para anak-anak ini belajar di kelas yang sama secara bergantian. Mereka belajar menulis, membaca, dan berhitung seperti layaknya sekolah pada umumnya. Pada hari sabtu, diadakan kegiatan ekstrakurikuler atau lingkungan.
Seluruh kegiatan pembelajaran ditanggung oleh donatur. Kebutuhan yang ditanggung tersebut seperti dana, perlengkapan belajar siswa, program belajar, makanan, seragam sekolah, dan kebutuhan lainnya. Dana yang didapatkan sekolah tersebut tidak menentu yang mengakibatkan biaya operasional sekolah menjadi terhambat. Honor pengajarpun kerap kali terlambat diberikan, tetapi para guru tersebut tetap mengajar dengan tulus. Agus berharap bahwa SAAJA dapat berkembang menjadi sekolah alternatif bagi warga utamanya warga Jakarta, untuk memberikan pendampingan terkait pendidikan bagi generasi bangsa, pendidikan adil tanpa diskriminasi.

0 Comments:
Posting Komentar