Membina Pengetahuan Anak- Anak Jalanan

 

 

SAAJA merupakan alternatif pendidikan bagi anak-anak dari keluarga pra-sejahtera yang dibangun oleh Yayasan Pemberdayaan Rakyat Miskin (PaRaM) pada 2002 di Taman Badan Pendidikan dan Pelatihan (Badiklat) DKI Jakarta, di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. “Yang memotivasi kami mengelola SAAJA dengan segala keterbatasannya adalah keinginan mendampingi pendidikan bagi keluarga pra-sejahtera dan anak-anak yang masih beraktivitas di jalanan. SAAJA masih diperlukan di tengah masyarakat metropolitan,”

 kata Pembina SAAJA, Agus Supriyanto. SAAJA mempunyai tiga kelas. Kelas TK A1 setara dengan pendidikan anak usia dini (PAUD), TK A2 untuk anak-anak usia 5-6 tahun, dan TK B untuk anak-anak usia 6-7 tahun yang akan memasuki sekolah dasar (SD). Setiap Senin sampai Jumat, pembelajaran berlangsung pada pukul 11.00-17.00. Mereka belajar bergantian di ruang kelas yang sama. Anak-anak belajar membaca dan berhitung. 

Mereka juga diajarkan Pancasila, lagu-lagu nasional, serta pendidikan dasar agama Islam. Setiap Sabtu, mereka memiliki kegiatan ekstrakurikuler atau lingkungan. “Dengan mengenalkan kegiatan menanam dan merawat lingkungan, diharapkan dapat membekali anak-anak untuk mencintai lingkungan,” ujar Agus. Ruang kelas sederhana Siswa-siswi SAAJA belajar di ruangan berukuran sekitar 6 meter x 10 meter yang dibangun dari bambu, kayu, dan dinding tripleks. Alas sekolah hanya diplester dan diberi karpet plastik yang mulai robek. Ruangan itu beratap terpal yang dilapisi daun rumbia. SAAJA pernah ditawari untuk dibuatkan kelas permanen. Namun, pengelolanya menolak tawaran itu. Selain karena sekolah dibangun di Taman Badiklat, bangunan itu juga merupakan bentuk kritik sosial. “Kami menyadari bahwa fungsi taman harus dijaga. Dan untuk tempat belajar SAAJA biar tetap seperti gubuk rakyat, gubuk belajar bagi warga, dan taman bermain bagi anak-anak. Ciri gubuk SAAJA adalah bentuk kritik sosial kepada kita semua bahwa di metropolitan masih perlu rumah sederhana untuk belajar warga. Tempat belajar tidak harus megah dan permanen, di mana pun bisa dilakukan pembelajaran,” kata Agus. 


Seluruh kegiatan belajar mengajar di SAAJA ditunjang oleh donatur. Mereka memberi sumbangan berupa dana, perlengkapan belajar untuk siswa, program belajar, makanan, seragam sekolah, dan lainnya. Tidak menentunya dana yang diperoleh membuat biaya operasional sekolah terhambat. Honor untuk guru sering terlambat dibayar. 

Meski begitu, guru-guru tetap ikhlas mengajar. “(Honor) tahun ini turun, tadinya Rp 1 juta jadi Rp 500.000. Ini udah bulan Mei, yang April aja belum dibayar. Tapi, alhamdulillah berkahnya ada, kecipratan dikit-dikit. Kalau ada acara, misalnya, sisa makanan lumayan saya bawa untuk anak-anak,” kata Nunung, salah seorang guru. Permasalahan lahan Kelas yang berdiri di Taman Badiklat DKI itu membuat pengelola SAAJA khawatir karena sewaktu-waktu sekolah itu bisa digusur. Terakhir kali Pemprov DKI melayangkan surat peringatan pada Juli 2014. “Menjawab surat dari Pemprov, kami audiensi, diterima sekda bidang kesra. 

Dalam pertemuan dijanjikan win-win solution, tapi sampai sekarang belum ada kejelasan. Satu sisi kami alami rasa waswas dengan sikap Pemprov sekarang ini yang giat menggusur. Tapi, di sisi lain kami meyakinkan warga binaan (orangtua siswa) agar tak perlu resah,” tutur Agus. Yayasan PaRam berharap pembelajaran di SAAJA dapat terus dilaksanakan meskipun banyak kendala. “(Harapannya) SAAJA berkembang menjadi sekolah alternatif bagi warga, terutama di Jakarta, ataupun di kota-kota lain, untuk memberikan pendampingan terkait pendidikan bagi generasi bangsa, pendidikan yang adil tanpa diskriminasi,” kata Agus. Yayasan juga berharap masih ada donatur dan relawan yang membantu mereka. 

Relawan cukup datang untuk mengisi formulir kesediaan membantu sesuai minatnya. Untuk bantuan dana, donatur dapat mengantarkannya langsung atau mentransfer melalui rekening Yayasan Pemberdayaan Rakyat Miskin, BRI KCP Depok Timur, dengan nomor rekening 1163-01-000053-30-5. “Untuk yang berupa barang, 

sebaiknya komunikasi dahulu dengan kami agar sesuai kebutuhan. Kami ada form isian yang menyatakan bentuk donasi dan peruntukannya. Kami belum punya website. Boleh juga membantu website, Wi-Fi, dan laptop, serta relawan IT-nya untuk kami optimalkan website-nya, he-he-he,” kata Agus. 

Masih ada banyak cerita lain tentang mereka yang bergerak dalam komunitas-komunitas kecil demi Jakarta yang lebih baik. Siapa saja mereka?  Lihatlah kisahnya dalam sajian multimedia Visual Interaktif Kompas, Jakarta yang Menginspirasi.

Sumber : 


https://megapolitan.kompas.com/read/2016/06/22/15135391/membangun.asa.anak-anak.jalanan.lewat.pendidikan?page=all


Sekolah Alternatif Anak Jalanan

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 Comments:

Posting Komentar